Krembangan – Pemerintah Kalurahan Krembangan menyelenggarakan kegiatan Rembug Stunting Kalurahan Tahun 2026 pada Selasa (9/6/2026) bertempat di Ruang Rapat Kalurahan Krembangan. Kegiatan ini dihadiri oleh Lurah Krembangan beserta seluruh pamong kalurahan, Ketua Bamuskal, Kader Pembangunan Manusia (KPM), kader Posyandu, kader PKK, Kepala Jawatan Sosial Kapanewon Panjatan, tim Puskesmas Panjatan I, Pendamping Desa, serta berbagai unsur yang terlibat dalam upaya percepatan penurunan stunting.
Rembug Stunting dilaksanakan sebagai forum musyawarah untuk mengevaluasi pelaksanaan program penanganan stunting, membahas kondisi terkini di Kalurahan Krembangan, serta menyusun usulan kegiatan prioritas yang akan dimasukkan dalam perencanaan pembangunan kalurahan.
Dalam sambutannya, Lurah Krembangan menegaskan bahwa upaya pencegahan dan penanganan stunting harus terus digalakkan agar jumlah kasus semakin menurun dan anak-anak di Kalurahan Krembangan dapat tumbuh dan berkembang sesuai target pertumbuhan yang diharapkan. Salah satu langkah yang terus diupayakan Pemerintah Kalurahan adalah memberikan perhatian khusus kepada ibu hamil agar terhindar dari kondisi Kekurangan Energi Kronik (KEK) yang berpotensi meningkatkan risiko stunting pada anak.
Kepala Jawatan Sosial Kapanewon Panjatan dalam arahannya menyampaikan bahwa kader merupakan ujung tombak di tingkat paling bawah dalam mengamati dan memantau tumbuh kembang anak. Menurutnya, masih ditemukan perilaku kurang sehat pada sebagian ibu hamil dan ibu menyusui, seperti pola konsumsi makanan yang kurang bergizi dan tidak seimbang. Kondisi tersebut dapat berdampak terhadap kesehatan ibu maupun tumbuh kembang janin dan balita.
Ia juga menegaskan bahwa stunting merupakan permasalahan nasional yang perlu mendapatkan perhatian serius karena berkaitan langsung dengan kualitas generasi penerus bangsa. Oleh karena itu, diperlukan kerja sama, komitmen, dan kerja keras dari seluruh pihak untuk mencapai target penurunan stunting.
Pada sesi pemaparan materi, tim Puskesmas Panjatan I menyampaikan berbagai faktor yang memengaruhi terjadinya stunting. Menurut Vita, salah satu tenaga kesehatan dari Puskesmas Panjatan I, sekitar 20 persen faktor penyebab stunting dipengaruhi oleh faktor keturunan, sedangkan 80 persen lainnya dipengaruhi oleh faktor lingkungan, kecukupan nutrisi, pola asuh keluarga, serta kondisi kesehatan ibu selama kehamilan.
Selain itu, pola asuh keluarga juga memiliki pengaruh besar terhadap pertumbuhan anak. Kesibukan orang tua dalam aktivitas sehari-hari terkadang menyebabkan pola makan ibu maupun anak menjadi tidak teratur. Setelah bayi lahir, pemberian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif selama enam bulan menjadi salah satu kunci penting pencegahan stunting. Namun demikian, tren penggunaan susu formula dan makanan instan yang semakin meningkat perlu menjadi perhatian karena tidak selalu sesuai dengan kebutuhan gizi anak sebagaimana yang dianjurkan dalam Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA).
Tim Puskesmas juga berharap balita yang mengalami gangguan pertumbuhan atau berat badan tidak naik segera mendapatkan penanganan dan rujukan sejak dini agar tidak berkembang menjadi masalah gizi yang lebih berat.
Sementara itu, Lina dari tim Puskesmas Panjatan I menambahkan bahwa berdasarkan hasil Mawas Diri, kebiasaan merokok dalam keluarga juga menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi kesehatan ibu dan anak. Asap rokok menyebabkan anggota keluarga lainnya menjadi perokok pasif, termasuk ibu hamil dan balita yang rentan terhadap berbagai gangguan kesehatan.
Pada kesempatan yang sama, Rina dari Puskesmas Panjatan I menyampaikan bahwa hingga bulan Mei 2026 terdapat dua anak yang masih berada di bawah standar pertumbuhan. Selain itu, terdapat dua ibu hamil berisiko yang memerlukan perhatian khusus. Beberapa permasalahan lain yang masih ditemukan adalah rendahnya kehadiran balita di Posyandu dan belum lengkapnya status imunisasi pada sebagian anak.
Rina juga menginformasikan bahwa layanan pemasangan alat kontrasepsi implant dapat dilakukan setiap hari, sedangkan pelayanan pemasangan IUD dilaksanakan setiap hari Rabu di fasilitas kesehatan.
Pendamping Desa dalam paparannya menyampaikan pentingnya penyamaan persepsi antara pemerintah kalurahan dan Puskesmas terkait data stunting. Kader Pembangunan Manusia (KPM) diharapkan mampu menjalankan fungsi pendataan dan pelaporan secara baik agar tidak menimbulkan perbedaan data yang dapat mempersulit proses perencanaan dan penganggaran program penanganan stunting.
Dalam kegiatan tersebut, Kader Pembangunan Manusia (KPM) Kalurahan Krembangan juga memaparkan data stunting tahun 2025. Dari total 325 balita yang ada di Kalurahan Krembangan, tercatat 33 anak mengalami permasalahan gizi yang terdiri dari 25 anak stunting, 19 anak gizi kurang, dan 2 anak gizi buruk. Sementara itu, sebanyak 12 anak dinyatakan lulus atau keluar dari status stunting selama tahun 2025.
Untuk data ibu hamil, tercatat sebanyak 32 ibu hamil di Kalurahan Krembangan, yang terdiri dari 10 ibu hamil dengan kondisi Kekurangan Energi Kronik (KEK), 12 ibu hamil normal, dan tidak terdapat ibu hamil dengan kategori risiko tinggi.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan Musyawarah Konvergensi Stunting yang membahas evaluasi pelaksanaan program tahun 2025, pelaksanaan kegiatan tahun 2026, serta perencanaan program prioritas tahun 2027.
Berdasarkan hasil musyawarah, disepakati sejumlah usulan kegiatan yang akan dimasukkan ke dalam RKP Kalurahan sebagai program prioritas penanganan stunting, yaitu:
- Pengadaan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi balita stunting, balita gizi kurang, dan balita gizi buruk.
- Penguatan kegiatan Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R).
- Pencegahan dan pengendalian Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti hipertensi, diabetes melitus, asma, dan stroke.
- Penanganan penyakit HFMD, varicella, dan tuberkulosis (TB).
- Pencegahan dan pengendalian Demam Berdarah Dengue (DBD).
- Penanganan permasalahan sampah.
- Perbaikan dan pengelolaan Saluran Pembuangan Air Limbah (SPAL).
- Penanganan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ).
- Penanganan ibu hamil anemia serta pemberian PMT bagi ibu hamil KEK.
- Pengendalian konsumsi rokok melalui pemasangan stiker Kawasan Bebas Rokok (KBR), pemeriksaan menggunakan CO Analyzer, serta deklarasi Kawasan Tanpa Rokok (KTR).
Dalam forum tersebut juga ditetapkan delegasi Kalurahan Krembangan untuk mengikuti tahapan rembug stunting berikutnya, yaitu Galih Hartisari dari kader Posyandu dan Etmi Sistriyani dari kader PKK.
Kegiatan Rembug Stunting ditutup dengan penandatanganan Berita Acara Rembug Stunting Kalurahan sebagai bentuk komitmen bersama seluruh pemangku kepentingan untuk mendukung percepatan penurunan stunting dan mewujudkan generasi Kalurahan Krembangan yang sehat, cerdas, dan berkualitas.